Mewujudkan Perilaku Etis di Perusahaan

Mewujudkan Perilaku Etis di Perusahaan

Oleh : Dra. Sri Haryani M.Si.
Dosen Tetap STIM YKPN

Hubungan kerja antar pegawai di kantor menuntut setiap pegawai untuk berperilaku etis terhadap yang lainnya. Perilaku etis ini dapat menumbuhkan iklim kerja yang kondusif, yang akan berujung pada meningkatnya produktivitas karyawan maupun perusahaan. Oleh karena itu, tidak ada perusahaan yang tidak berusaha untuk menumbuhkan etika di lingkungan kerjanya, meskipun etika satu perusahaan pada umumnya berbeda dengan yang lain.

Perusahaan menghadapi banyak tantangan dalam permasalahan di tempat kerja, salah satunya dalam hal kejujuran (honestry). Setiap tindakan dan keputusan yang diambil perusahaan selalu ada dasar alasannya. Tetapi ketika tindakan atau keputusan itu disampaikan ke karyawan, apakah manajemen menyampaikan hal sebenarnya ?

Perusahaan membuat pengumuman akan diadakan senam bersama pada hari jum’at. Dari pengumuman itu, karyawan mempunyai persepsi akan adanya kegiatan yang relative santai dan menyenangkan. Dalam kenyataannyadiadakan outbond yang mengarah pada pengenalan pentingnya koordinasi dan kerjasama. Karena tidak ada ralat pengumuman, maka keadaan ini merupakan tindakan tidak jujur. Ketidakjujuran juga seringkali dilakukan oleh pihak karyawan. Misalnya karyawan mengajukan ijin tidak masuk kerja dengan alas an keperluan keluarga, padahal sebenarnya ada pekerjaan sampingan.

Masalah kesamaan (equal) juga terjadi ketika atasan memberikan kesempatan promosi kepada karyawan, di mana karyawan yang dipromosikan bukan karena kompetensinya memenuhi criteria, tetapi karena keluarga atau kedekatan. Dengan mempromosikan karyawan yang tidak sesuai kompetensinya, bukan hanya menghilangkan kesempatan kepada karyawan yang berhak tetapi dapat menghambat kelancaran aktivitas atau bahkan perubahan perusahaan.

Dalam situasi tertentu manajemen perusahaan juga dapat didekte oleh pihak luar, apakah itu pemilik/pemegang saham, instansi tertentu, atau bahkan legistatif sehingga tidak ada kebebesan (independence) dalam mengambil keputusan. Misalnya dalam penerimaan karyawan, manajemen menerima “titpan” dari putra/putrid instansi pemerintah yang biasanya berhubungan dengan perusahaan seperti perizinan, disnaker, kantor pajak atau badan-badan pemerintah yang lain. Manajemen tidak dapat bersikap independen (bebas) dalam menentukan siapa yang akan diterima karena adanya “titipan” ini. Kalau calon karyawan yang merupakan titipan tersebut sebenarnya kompetensinya tidak memenuhi standar, maka dampaknya pada kelancaran usaha dan produktivitas perusahaan.
Praktek di sebagian perusahaan pembiayaan juga ada kalanya tidak transparan. Seorang konsumen yang menggunakan jasa perusahaan pembiayaan untuk pembelian sepeda motor di dealer tertentu seringkali tidak dijelaskan konskuensi yang ditanggung jika konsumen terlambat mengangsur atau bahkan menunggak angsuran. Beberapa konsumen menjadi sangat bingung ketika sepeda motornya yang dibeli melalui perusahaan pembiayaan diambil dengan paksa oleh petugas perusahaan.

Mereka tidak tahu konskuensi jika terlambat mengangsur akan denda atau bunga tambahan dan jika mereka menunggak angsuran “sekali saja” sepeda motor akan diambil perusahaan. Pengambilan sepeda motor pada umumnya tidak didahului dengan pemberitahuan karena adanya kekhawatiran kalau konsumen tahu sebelumnya maka akan menyembunyikan sepeda motornya.

Dalam kenyataan masih banyak sekali praktek di perusahaan yang tidak etis, baik yang dilakukan oleh perusahaan maupun oleh pihak karyawan. Yang perlu dipahami oleh pihak perusahaan adalah bahwa perilaku tidak etis di perusahaan bukan hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi dapat berdampak pada penurunan produktivitas dan pertumbuhan perusahaan. Dalam hak pihak karyawan atau konsumen tidak dapat menerima perlakuan perusahaan, mereka dapat mengajukan tuntutan hukum. Perkara hukum biasanya dihindari oleh perusahaan, karena perkara hukum menyita waktu, tenaga, pikiran dan biaya atau bahkan berdampak pada citra perusahaan.
Melihat dampaknya yang signifikan, maka perusahaan berusaha agar dalam kegiatannya selalu mengedepankan nilai-nilai etika. Dengan demikian kegiatan perusahaan dapat nilai baik dan benar, yang selanjutnya akan berlanjut pada penilaian akan citra yang positif terhadap perusahaan.

Bagaimana cara agar perusahaan dapat dinilai berperilaku secara baik dan benar, dan mempunyai citra yang positif ? Pertama, cara yang paling cepat dan mudah dilakukan adalah dengan pimpinan atau atasan yang memberikan contoh etis dilingkungan perusahaan. Misalnya dengan berkata dan berperilaku jujur di perusahaan. Pilihan berkata dan berperilaku jujur seringkali menimbulkan ketidaknyamanan, timbulnya masalah baru, atau bahkan kemungkinan hilangnya kesempatan atau keuntungan jangka pendek. Dengan pimpinan yang tidak nepotisme dalam merekrut karyawan, setidaknya membuat bawahan atau pihak luar tidak enak atau bahkan tidak berani ketika akan melakukannya.

Cara yang kedua, yaitu dengan menggunakan kode etik yang harus diikuti oleh seluruh anggota perusahaan/organisasi. Kode etik akan berisi nilai-nilai yang baik, baik bagi karyawan, perusahaan, maupun bagi pihak lain. Apabila perusahaan belum memiliki kode etik, sekarang saatnya untuk menyusun kode etik dengan memasukkan nilai-nilai etika seperti kejujuran, kesamaan, kebebasan, dan lain-lain. Jika kode etik telah disusun, sekarang saatnya menerapkannya di perusahaan.
Semoga sukses.